Saudi Aramco Pangkas Pasokan Minyak ke Asia, Dampak Konflik Timur Tengah Kian Terasa

Saudi, Kaltimnow.id— Perusahaan minyak terbesar dunia, Saudi Aramco, kembali memangkas pasokan minyak mentah ke kawasan Asia untuk April 2026. Ini menjadi pemangkasan kedua secara berturut-turut di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Mengutip laporan Reuters, keputusan tersebut dipicu konflik antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel yang berdampak pada terganggunya jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz.

Sumber yang mengetahui kebijakan tersebut menyebutkan bahwa Saudi Aramco kini hanya memasok minyak mentah jenis Arab Light kepada pelanggan kontrak di Asia. Pasokan tersebut dikirim melalui pelabuhan Laut Merah di Yanbu.

Kondisi ini membuat suplai ke kilang-kilang di Asia menjadi lebih terbatas dan berpotensi menekan produksi produk olahan minyak di kawasan tersebut.

Dalam pernyataan resminya, Saudi Aramco menegaskan komitmennya untuk tetap menjaga keandalan pasokan energi global dengan mengoptimalkan jalur distribusi alternatif.

“Kami tetap berkomitmen memenuhi harapan pelanggan, dengan jadwal pengapalan yang disesuaikan untuk mencerminkan realitas baru, serta memastikan pelanggan tetap mendapat informasi,” demikian pernyataan perusahaan, dikutip dari Reuters, Senin (24/3/2026) kemarin.

Sebagai langkah mitigasi, perusahaan meningkatkan volume ekspor melalui Yanbu guna mengimbangi gangguan distribusi di Selat Hormuz. Bahkan, pengapalan minyak dari pelabuhan tersebut diperkirakan mencapai rekor tertinggi pada Maret 2026.

Salah satu pelanggan utama, perusahaan energi asal China Sinopec, dijadwalkan mengangkut sekitar 24 juta barel minyak mentah Saudi dari Yanbu pada bulan ini.

Namun, aktivitas di pelabuhan tersebut sempat terganggu setelah sebuah drone jatuh di kilang SAMREF milik Saudi Aramco pada pekan lalu.

Berdasarkan data perusahaan analitik Kpler, ekspor minyak mentah Arab Saudi tercatat sebesar 4,35 juta barel per hari pada Maret 2026. Angka ini menurun signifikan dibandingkan Februari yang mencapai 7,10 juta barel per hari.

Situasi ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik di Timur Tengah mulai berdampak langsung pada rantai pasok energi global, termasuk ke kawasan Asia yang menjadi salah satu konsumen terbesar minyak dunia. (Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *