Cara Wajar Memarahi Anak Tanpa Melukai Perasaannya

Samarinda, Kaltimnow.id – Anak-anak memang kerap menunjukkan sikap manis dan menyenangkan di depan orang tua. Namun, ada juga momen ketika mereka bertingkah menyebalkan dan memancing emosi. Dalam situasi seperti ini, marah sering kali menjadi respons spontan orang tua.

Padahal, memarahi anak tidak boleh dilakukan sembarangan. Marahlah sewajarnya dan tetap kendalikan diri agar tidak melukai hati si kecil. Berikut beberapa cara wajar memarahi anak yang bisa diterapkan orang tua.

1. Jelaskan Alasan Anda Marah

Banyak orang tua memarahi anak tanpa menjelaskan alasannya. Hal ini justru membuat anak bingung karena tidak memahami letak kesalahannya.

Sebaiknya, beri penjelasan yang jelas dan sederhana. Misalnya, karena ia terlambat bangun, sulit makan, menolak belajar, atau terlalu lama bermain gawai. Dengan begitu, anak memahami perilaku mana yang perlu diperbaiki.

2. Perhatikan Nada Bicara dan Pilihan Kata

Nada suara yang tinggi memang bisa membuat anak terdiam, tetapi belum tentu membuatnya mengerti. Justru, berbicara dengan tenang sering kali lebih efektif.

Selain itu, pemilihan kata juga sangat penting. Hindari kata-kata kasar, merendahkan, atau membandingkan anak dengan orang lain. Ucapan yang menyakitkan dapat berdampak pada psikologis dan rasa percaya diri anak dalam jangka panjang.

3. Menjauh Sejenak Saat Emosi Memuncak

Ketika anak bertingkah menjengkelkan, cobalah menahan diri sebelum langsung memarahinya. Jika emosi sedang tinggi, ambil jeda sejenak untuk menenangkan diri.

Setelah lebih tenang, barulah ajak anak berbicara dan jelaskan kesalahannya. Cara ini membantu anak melihat bahwa orang tuanya tegas, bukan sekadar pemarah.

4. Tidak Selalu Menghukum

Tidak semua kesalahan anak harus dibalas dengan hukuman. Banyak perilaku yang bisa diperbaiki melalui contoh dan komunikasi yang konsisten.

Orang tua dapat menunjukkan perilaku yang benar, menjelaskan aturan rumah, dan membangun dialog agar anak belajar bertanggung jawab. Hukuman sebaiknya menjadi pilihan terakhir.

Jika anak terus mengulangi kesalahan yang sama, barulah berikan konsekuensi yang sesuai dan mendidik. Hindari kekerasan dan hukuman fisik karena dapat berdampak buruk bagi perkembangan emosional anak. (ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *