New York, Kaltimnow.id – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), António Guterres, secara tegas mengutuk eskalasi militer besar-besaran di Timur Tengah, termasuk serangan yang dilakukan Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, serta serangan balasan Iran ke sejumlah negara kawasan.
Dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan PBB, Guterres menegaskan bahwa Piagam PBB menjadi landasan utama dalam menjaga perdamaian dan keamanan internasional. Ia mengingatkan seluruh negara anggota untuk menahan diri dari ancaman atau penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah dan kemerdekaan politik suatu negara.
“Itulah sebabnya sejak pagi ini saya telah mengecam serangan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Saya juga mengecam serangan balasan Iran yang melanggar kedaulatan dan integritas wilayah Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab,” ujar Guterres, Minggu (1/3/2026).
Risiko Serius bagi Perdamaian Global
Menurut Guterres, tindakan militer tersebut membawa risiko serius terhadap stabilitas internasional. Ia memperingatkan bahwa konflik yang terus meluas dapat menciptakan rangkaian peristiwa yang tidak terkendali, khususnya di kawasan yang sangat rentan seperti Timur Tengah.
Ia menekankan bahwa tidak ada solusi lain selain penyelesaian sengketa secara damai melalui dialog dan perundingan.
“Perdamaian yang berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui cara-cara damai, termasuk dialog yang sungguh-sungguh dan perundingan,” tegasnya.
Situasi di Lapangan Dinamis dan Mengkhawatirkan
Guterres mengungkapkan bahwa situasi di lapangan berkembang sangat cepat dan penuh ketidakpastian. Banyak laporan yang belum dapat diverifikasi secara independen, namun menunjukkan tingkat kekerasan yang mengkhawatirkan.
Sekitar 20 kota di Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan, termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Shahriar, dan Tabriz. Di Teheran, ledakan besar dilaporkan terjadi di distrik yang mencakup istana kepresidenan dan kompleks Pemimpin Tertinggi Iran.
Ia juga menyebut laporan mengenai wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, meskipun belum dapat dikonfirmasi secara independen.
Media Iran melaporkan satu serangan udara menewaskan sedikitnya 85 orang di sebuah sekolah perempuan di Minab, Provinsi Hormozgan. Sementara itu, sekolah lain di Teheran dilaporkan turut terdampak dan menimbulkan korban jiwa.
Serangan Meluas dan Ancaman Stabilitas Global
Menurut Guterres, eskalasi konflik telah meluas ke berbagai negara. Sumber Israel menyebut 89 orang mengalami luka-luka akibat serangan balasan Iran, dengan dampak yang juga terasa di Tepi Barat.
Iran juga mengumumkan bahwa mereka menargetkan aset militer AS sebagai respons atas serangan udara sebelumnya.
Selain itu, dampak puing-puing rudal dilaporkan terjadi di Lebanon dan Suriah. Uni Emirat Arab melaporkan satu warga sipil tewas akibat puing rudal yang berhasil dicegat. Irak juga menerima laporan serangan drone dan rudal dari kedua belah pihak.
Guterres turut menyoroti laporan bahwa Iran menutup Selat Hormuz bagi pelayaran internasional, langkah yang berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan ekonomi global secara signifikan.
Peluang Diplomasi yang Terbuang
Eskalasi ini terjadi setelah putaran ketiga perundingan tidak langsung antara AS dan Iran yang dimediasi Oman gagal mencapai kesepakatan.
Persiapan pembicaraan teknis di Wina bahkan telah dijadwalkan sebelum konflik meningkat tajam.
“Saya sangat menyesalkan bahwa peluang diplomasi ini telah disia-siakan,” ujar Guterres.
Di akhir pidatonya, ia menyerukan de-eskalasi dan penghentian segera permusuhan, serta meminta seluruh negara anggota PBB menegakkan hukum internasional, melindungi warga sipil, dan memastikan keselamatan nuklir.
“Marilah kita bertindak secara bertanggung jawab dan bersama-sama untuk menarik kawasan ini, dan dunia kita, menjauh dari jurang bahaya,” pungkasnya. (Ant)











