Kutai Kartanegara, Kaltimnow.id – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menyiapkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi lanjut usia (lansia) melalui kolaborasi program dedikasi daerah dan pemanfaatan anggaran di tingkat rukun tetangga (RT).
Program ini dirancang untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi lansia sekaligus memperkuat keterlibatan masyarakat dalam penyediaan makanan bergizi. Pelaksanaannya akan melibatkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kukar dan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).
Kepala Dinkes Kukar, Ismi Mufidah, mengatakan program MBG bagi lansia dikolaborasikan dengan program dedikasi RTQ Terbaik. Skema tersebut juga mencakup pemberian makanan bergizi bagi balita.
“Program dedikasi RTQ Terbaik dan MBG bagi balita serta lansia ini dikolaborasikan. Dinkes menyiapkan petunjuk teknis, sedangkan DPMD berkoordinasi terkait pelaksanaannya di tingkat RT,” ujar Ismi.
Ia menjelaskan, Dinkes Kukar telah menyusun petunjuk teknis sebagai pedoman pelaksanaan program. Aturan tersebut mencakup standar menu, porsi, hingga kandungan kalori makanan agar sesuai dengan kebutuhan penerima manfaat.
Penyediaan makanan akan mengutamakan bahan pangan lokal melalui mekanisme pemberian makanan tambahan (PMT) berbasis pangan lokal. Dengan demikian, pelaksanaannya berpotensi melibatkan masyarakat setempat dan kader kesehatan.
Distribusi makanan nantinya dapat dikoordinasikan melalui posyandu maupun mekanisme lokal lainnya sesuai ketentuan. Dinkes juga akan memberikan pendampingan terkait standar gizi serta melakukan pemantauan bersama kader dan tenaga kesehatan.
Menurut Ismi, jumlah lansia dan balita di setiap RT berbeda-beda. Karena itu, pendataan sasaran menjadi langkah penting untuk menghitung kebutuhan makanan sekaligus menentukan besaran anggaran yang diperlukan.
Pemkab Kukar mengalokasikan anggaran sebesar Rp150 juta untuk setiap RT. Namun, pemanfaatan anggaran untuk program MBG akan disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Dinkes selanjutnya akan menyampaikan data jumlah balita dan lansia kepada DPMD untuk diteruskan kepada pemerintah RT. Data tersebut menjadi dasar dalam menghitung kebutuhan program dan mengoordinasikan alokasi anggaran.
“Jumlah lansia di setiap RT berbeda-beda. Jadi, kebutuhan anggaran juga harus disesuaikan dengan jumlah sasaran dan kebutuhan makanan di masing-masing wilayah,” jelasnya.
Untuk memastikan program berjalan sesuai ketentuan, Dinkes Kukar akan melibatkan kader kesehatan dan tenaga puskesmas dalam pengawasan di lapangan. Pemantauan dilakukan agar makanan yang diberikan memenuhi standar menu, porsi, dan kandungan gizi.
Ismi berharap kolaborasi lintas sektor tersebut dapat memperkuat pelaksanaan pemberian makanan tambahan bagi kelompok masyarakat yang membutuhkan. Selain memenuhi kebutuhan gizi lansia dan balita, program ini juga diharapkan mendorong partisipasi masyarakat dalam mendukung pelayanan kesehatan di lingkungan masing-masing.
Saat ini, petunjuk teknis program telah diselesaikan oleh Dinkes Kukar. Tahap berikutnya adalah koordinasi data sasaran dan penghitungan kebutuhan anggaran bersama DPMD sebelum program direalisasikan di tingkat RT. (adv/prokomkukar/ant)














