Bali, Kaltimnow.id – Media sosial tengah ramai membahas nasib atlet angkat berat asal Buleleng, Bali, I Gede Wahyu Surya Wiguna, yang gagal tampil di ajang Kejuaraan Dunia.
Kabar ini mencuat setelah Wahyu mengungkapkan kekecewaannya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya. Ia menyebut tidak mendapatkan surat rekomendasi yang menjadi syarat utama untuk mengikuti kejuaraan yang rencananya digelar di Druskininkai, Lithuania.
Soroti Dana Jaminan Rp339 Juta
Dalam unggahannya, Wahyu juga menyinggung adanya permintaan dana jaminan sebesar 20.000 dolar AS atau sekitar Rp339 juta.
“Kalah sebelum berperang. Gagal tanding di kejuaraan Lithuania. Tidak mendapatkan surat rekomendasi,” tulis Wahyu.
Ia menjelaskan bahwa dana tersebut diminta sebagai bentuk jaminan apabila terjadi pelanggaran atau sanksi selama kejuaraan berlangsung.
“Jika saya mau berangkat dunia maka harus membayar jaminan itu ke pengurus Bali. Itu menjadi syarat utama. Uang sebanyak itu dari mana?” lanjutnya.
Unggahan ini kemudian viral dan menuai beragam reaksi dari warganet, yang menilai atlet berprestasi seharusnya mendapat dukungan penuh.
Penjelasan Pabersi: Sesuai Aturan Doping Internasional
Menanggapi polemik tersebut, pihak Perkumpulan Angkat Berat Seluruh Indonesia (Pabersi) Buleleng memberikan klarifikasi.
Sekretaris Umum Pabersi Buleleng, Ketut Widi Sandiada, menyatakan bahwa Wahyu memang menerima undangan dari International Powerlifting Federation untuk mengikuti kejuaraan dunia.
Namun terkait dana jaminan, ia menyebut hal tersebut berkaitan dengan ketentuan tes doping yang diatur oleh World Anti-Doping Agency.
“Itu semua sudah sesuai dengan aturan kejuaraan. Tidak ada pungli seperti yang ramai di media sosial,” tegasnya.
KONI Buleleng: Rekomendasi Kewenangan Pusat
Sementara itu, Ketua Harian KONI Buleleng, Putu Nova Putra, menegaskan pihaknya tetap mendukung prestasi Wahyu.
Namun ia menjelaskan bahwa proses administrasi, termasuk rekomendasi kejuaraan dunia, bukan berada di tingkat daerah.
“Kami di daerah tentunya mendukung atlet agar berprestasi di level yang lebih tinggi. Namun, untuk proses administrasi seperti rekomendasi, kewenangannya berada di pusat,” ujarnya.
Atlet Berprestasi dengan Rekor Dunia
Terlepas dari polemik yang terjadi, Wahyu Surya dikenal sebagai salah satu atlet powerlifting Indonesia yang berprestasi di level internasional.
Pada 2025, ia sukses meraih dua medali emas dan satu perak di ajang Asian African Pacific Powerlifting and Bench Press Championships di Jepang.
Tak hanya itu, ia juga mencetak rekor Asia dan dunia pada kelas 66 kilogram, khususnya di nomor squat dan deadlift. Salah satu catatannya adalah angkatan 230 kilogram di nomor squat yang menjadi rekor baru.
Sorotan Publik: Dukungan untuk Atlet
Kasus ini memunculkan diskusi luas di masyarakat mengenai dukungan terhadap atlet berprestasi, terutama terkait pembiayaan dan birokrasi.
Banyak pihak berharap adanya solusi agar atlet Indonesia dapat bertanding di ajang internasional tanpa terkendala persoalan administratif maupun biaya. (Ant)













