Samarinda, Kaltimnow.id – Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025 menjadi salah satu instrumen penting dalam mengukur kemampuan daerah dalam mendorong pembangunan yang produktif, inklusif, dan berkelanjutan. Penyusunannya dirancang dengan menyesuaikan konteks pembangunan nasional serta ketersediaan data di tingkat daerah.
Indeks ini dikembangkan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sebagai dasar untuk merumuskan pilar dan indikator yang relevan dalam menggambarkan daya saing suatu wilayah.
Berbeda dengan banyak indeks lainnya, IDSD 2025 sepenuhnya menggunakan data sekunder. Artinya, seluruh data bersumber dari kementerian, lembaga, serta instansi resmi pemerintah.
Tidak ada proses survei primer, wawancara, maupun pengumpulan data langsung di lapangan dalam penyusunannya. Hal ini membuat kualitas indeks sangat bergantung pada sistem pengelolaan data masing-masing instansi.
Dengan pendekatan ini, validitas dan konsistensi data menjadi kunci utama dalam menghasilkan gambaran daya saing daerah yang akurat.
Secara struktur, IDSD 2025 dibangun dari 12 pilar utama yang mencerminkan berbagai aspek pembangunan daerah, baik yang bersifat fundamental maupun penunjang.
Pilar-pilar tersebut diukur melalui total 63 indikator yang dipilih berdasarkan beberapa kriteria, antara lain:
- Relevansi konseptual
- Ketersediaan data
- Konsistensi antar waktu
- Kemampuan untuk dibandingkan antar daerah
Setiap indikator merepresentasikan kondisi spesifik suatu daerah, yang kemudian diolah secara bertahap menjadi nilai pilar hingga akhirnya menghasilkan skor indeks daya saing secara keseluruhan.
Dalam implementasinya, BRIN menerapkan IDSD 2025 di seluruh wilayah Indonesia, mencakup:
- 38 provinsi
- 508 kabupaten dan kota
Jumlah indikator yang digunakan juga menyesuaikan tingkat wilayah, dengan komposisi yang lebih rinci di tingkat provinsi dibandingkan kabupaten/kota.
Dengan cakupan luas dan pendekatan berbasis data resmi, IDSD menjadi salah satu acuan strategis bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan daerah.
Indeks ini tidak hanya menggambarkan posisi daya saing suatu wilayah, tetapi juga membantu mengidentifikasi sektor mana yang perlu diperkuat untuk mendorong pertumbuhan yang lebih merata dan berkelanjutan. (Ant)














