Samarinda, Kaltimnow.id – Saya lahir dan tumbuh di Samarinda. Saya bukan ekonom, pejabat, atau pengamat politik. Saya hanya pelaku usaha yang cukup sering melihat kehidupan kota ini dari jarak dekat.
Akhir-akhir ini saya sering melihat banyak orang-orang mulai memposting barang-barang pribadinya untuk dijual.
Seperti teman, tetangga hingga anak muda yang membuka usaha dari rumah. Makanan, jasa, barang bekas, hingga berbagai produk kreatif ditawarkan melalui media sosial.
Awalnya saya melihatnya sebagai sesuatu yang positif. Masyarakat Samarinda semakin kreatif dan berani mencoba.
Namun, kemudian muncul satu pertanyaan sederhana: mereka berjualan karena ingin, atau karena harus?
Pertanyaan itu penting karena kita sering mendengar anak muda didorong untuk tidak menjadi pencari kerja, tetapi menjadi pencipta lapangan kerja.
Kalimat itu terdengar baik. Namun, bagaimana jika seseorang sebenarnya masih ingin bekerja sebagai karyawan, tetapi kesempatan yang tersedia belum sesuai dengan kemampuannya?
Kita juga mengenal fenomena persyaratan kerja yang meminta pengalaman, kemampuan komunikasi, kemampuan bekerja dengan target, hingga berbagai keterampilan lain. Bahkan, sebagian pencari kerja pemula menghadapi persoalan klasik: bagaimana mendapatkan pengalaman jika kesempatan pertama saja sulit diperoleh?
Ketika lapangan pekerjaan belum banyak meresap, sebagian orang akhirnya mencoba membuat lapangan itu sendiri.
Mereka berjualan.
Ketika Pengangguran Turun, Pertanyaan Belum Selesai
Saya tidak ingin mengatakan kondisi ketenagakerjaan Samarinda semakin buruk. Data tidak sesederhana itu.
BPS mencatat untuk Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Samarinda pada 2025 tercatat 5,31 persen, turun dari 5,75 persen pada 2024. Penurunan tersebut menunjukkan perbaikan pada indikator pengangguran, meski persoalan pasar kerja belum otomatis selesai.
Di sisi lain, perekonomian Kota Samarinda pada 2025 tumbuh 6,22 persen. Pertumbuhan tersebut tetap positif, meski melambat dibandingkan 2024 yang mencapai 8,66 persen.
Sebagai warga, saya tentu senang melihat ekonomi tumbuh dan pengangguran menurun.
Namun, pertanyaan berikutnya tetap ada: sejauh mana pertumbuhan tersebut terasa dalam kehidupan pelaku usaha kecil dan pencari kerja?
Pertumbuhan ekonomi pada akhirnya bukan hanya angka dalam laporan. Bagi pedagang kecil, pertanyaan sehari-harinya jauh lebih sederhana.
Apakah pelanggan bertambah?
Apakah omzet meningkat?
Apakah biaya usaha masih bisa ditanggung?
Dan yang paling penting, apakah usaha tersebut mampu bertahan?
Masalahnya Bukan Hanya Penjual, tetapi Pasar
Kita sering mendorong masyarakat membuka usaha. Itu hal yang baik.
Pelatihan kewirausahaan, akses modal, digitalisasi, legalitas, branding, dan berbagai program pemberdayaan memang dibutuhkan.
Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting: pasar.
Jika semakin banyak orang menjual produk yang serupa, sementara jumlah pembeli tidak bertambah dalam proporsi yang sama, persaingan akan semakin ketat.
Pelaku usaha akhirnya menawarkan diskon, promo, gratis ongkir, atau menurunkan harga untuk mendapatkan pelanggan.
Bagi konsumen, situasi itu mungkin menguntungkan. Tetapi bagi pelaku usaha kecil, margin yang semakin tipis dapat menjadi persoalan.
Karena itu, menurut saya, keberhasilan program pemberdayaan usaha tidak cukup hanya dilihat dari berapa banyak orang yang mengikuti pelatihan atau berapa banyak usaha yang dibuka.
Kita juga perlu bertanya: berapa banyak yang bertahan, mendapatkan pelanggan, dan menghasilkan pendapatan yang layak?
Pertanyaan tersebut bukan menuduh. Tetapi, ini adalah pertanyaan tentang bagaimana kebijakan ekonomi dapat terus diperbaiki.
Ketika Kehilangan Pekerjaan Menjadi Pilihan Sulit
Persoalan pasar kerja juga terlihat dari data manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP).
Di Samarinda, BPJS Ketenagakerjaan mencatat 1.233 pengajuan manfaat Jaminan Kehilangan Pekerjaan (JKP) pada Januari hingga Mei 2026. Jumlah tersebut mendekati total pengajuan sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 1.600 pekerja. Angka ini setidaknya menunjukkan bahwa kehilangan pekerjaan masih menjadi persoalan yang perlu diperhatikan, meski pengajuan JKP tidak dapat disamakan dengan keseluruhan kasus PHK di Samarinda.
Begitu pula kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa seluruh pekerja yang kehilangan pekerjaan kemudian memilih menjadi pengusaha.
Pilihan mereka beragam: mencari pekerjaan baru, menggunakan tabungan, bekerja serabutan, meminta dukungan keluarga, atau mencoba membuka usaha.
Karena itu, ketika kita melihat seseorang mulai berjualan, kita tidak selalu tahu cerita di balik keputusannya.
Bisa jadi ia sedang mengejar mimpi menjadi pengusaha.
Bisa juga ia sedang berusaha bertahan.
Dari Keresahan Menjadi Ruang Kecil
Saya sendiri kemudian mencoba melakukan sesuatu yang sederhana.
Dari keresahan tersebut, saya bersama rekan-rekan membuat @titipdong.smr, sebuah ruang promosi gratis untuk membantu usaha warga, barang bekas yang masih bernilai, maupun kegiatan lokal agar lebih mudah ditemukan.
Saya tidak menganggapnya sebagai solusi atas persoalan ekonomi Samarinda.
Kemampuan kami juga terbatas.
Namun, dari situ saya belajar satu hal: banyak orang sebenarnya memiliki sesuatu untuk dijual, tetapi belum tentu memiliki akses untuk membuat orang lain mengetahui keberadaan produk mereka.
Di tengah persaingan perhatian di media sosial, promosi juga membutuhkan biaya dan kemampuan.
Karena itu, munculnya ruang-ruang kolaborasi sederhana tetap memiliki arti.
Satu orang menemukan sebuah produk. Satu pembeli melakukan transaksi. Satu transaksi mungkin membantu sebuah usaha bertahan lebih lama.
Memang kecil.
Tetapi perubahan tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Samarinda Tidak Kekurangan Orang yang Mau Berusaha
Saya tidak marah melihat semakin banyak warga Samarinda berjualan.
Sebaliknya, saya bangga.
Saya melihat orang-orang yang mau mencoba. Ada seorang ibu yang menjual makanan dari rumahnya. Ada anak muda yang memulai usaha dari kamar. Ada juga orang yang mengubah barang tidak terpakai menjadi sumber penghasilan.
Yang membuat saya khawatir adalah ketika berjualan terasa bukan lagi sebagai pilihan, melainkan satu-satunya pilihan karena pilihan lain terlalu sulit.
Di sinilah kita perlu memperluas sudut pandang dalam melihat persoalan.
Jangan hanya bertanya berapa banyak UMKM yang lahir.
Tanyakan juga berapa banyak yang survive.
Jangan hanya menghitung berapa banyak orang yang dilatih.
Lihat juga berapa banyak yang memperoleh penghasilan.
Jangan hanya melihat pertumbuhan ekonomi.
Tanyakan juga siapa yang menikmati pertumbuhan tersebut.
Dan jangan hanya masyarakat untuk berjualan.
Tetapi memastikan adanya pembeli
Saya tidak memiliki semua jawabannya.
Mungkin pemerintah memiliki sebagian jawabannya. Pengusaha, pekerja, komunitas, kampus, dan masyarakat juga memiliki pengalaman masing-masing.
Namun saya percaya Samarinda tidak kekurangan orang yang mau bekerja, berusaha, dan menciptakan sesuatu.
Mungkin yang masih perlu kita bangun bersama adalah lebih banyak kesempatan, akses, pasar, dan pembeli.
Sebab warga memang harus berjuang.
Tetapi mereka tidak seharusnya selalu merasa berjuang sendirian.
Dan akhirnya, saya kembali pada pertanyaan sederhana:
Jika semua masyarakat berjualan, lantas siapa yang jadi pembelinya?
Oleh : Aditia Rama Dani
Editor : Ant














