Jakarta, Kaltimnow.id – Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyoroti persoalan penyaluran bantuan sosial (bansos) menyusul kasus meninggalnya siswa SMK di Samarinda, Kalimantan Timur.
Ia menegaskan, pemerintah masih menghadapi tantangan serius dalam memastikan bansos benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak.
“Jadi memang kita selama ini menyadari ada bansos yang tidak tepat sasaran,” kata Gus Ipul di Kantor Kementerian Sosial, Selasa (5/5/2026).
Pemerintah, menurut Gus Ipul, kini mengandalkan Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2025 sebagai basis perbaikan distribusi bansos.
Instrumen tersebut digunakan untuk menentukan kelayakan penerima bantuan secara lebih akurat.
“Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional sebagai alat ukur kita untuk melihat apakah keluarga tersebut layak atau tidak layak menerima bansos,” jelasnya.
Gus Ipul mengakui masih ditemukan dua jenis kesalahan utama dalam distribusi bansos, yakni inclusion error (salah sasaran penerima) dan exclusion error (yang berhak justru tidak menerima).
“Berdasarkan pengukuran baru sejak tahun 2025, kita temukan banyak sekali keluarga-keluarga yang sebenarnya berhak menerima bansos malah justru tidak terima,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi sebaliknya juga terjadi, penerima yang tidak berhak justru mendapatkan bantuan.
Temuan tersebut, kata Gus Ipul, menjadi bahan evaluasi pemerintah. Masukan datang dari berbagai pihak, mulai dari masyarakat hingga lembaga pengawas.
“Masukan-masukan yang diberikan oleh masyarakat lewat aplikasi, command center, DPR, maupun Ombudsman sangat membantu,” ucapnya.
Saat ini, pemerintah tengah melakukan verifikasi lapangan dan pemutakhiran data secara berkala. Selain itu, digitalisasi bansos juga didorong untuk meminimalkan potensi kesalahan.
“Saya yakin ke depan kalau ini konsisten kita lakukan, error-nya akan terus diperkecil,” tegasnya.
Pernyataan ini muncul setelah kasus meninggalnya seorang siswa di SMK Negeri 4 Samarinda, Mandala Rizky Saputra (16), menjadi perhatian publik.
Siswa yatim tersebut dilaporkan mengalami pembengkakan pada kaki yang diduga dipicu penggunaan sepatu yang tidak sesuai ukuran.
Kasus ini memunculkan sorotan terhadap efektivitas bantuan sosial, khususnya dalam menjangkau kelompok rentan yang membutuhkan dukungan dasar. (Ant)














