Samarinda, Kaltimnow.id — Di sudut sederhana Samarinda, kehidupan Rasminah berjalan seperti biasa: berjualan pisang demi menyambung hidup. Namun siapa sangka, kisahnya justru menggugah ribuan hati dan memantik gelombang kepedulian.
Semua bermula dari sebuah video yang beredar di media sosial. Dalam rekaman itu, Wawan Irawan bersama rekannya mendatangi rumah Rasminah. Percakapan sederhana di rumah itu membuka satu fakta: pendengaran Rasminah mulai menurun, sementara ia tetap berjuang menjalani hari.
Melalui komunitas Kaltim Kind, Wawan langsung menginisiasi penggalangan dana. Tanpa banyak rencana panjang, aksi itu justru mendapat respons luar biasa.
Dalam waktu kurang dari 24 jam, donasi yang terkumpul mencapai Rp12,7 juta.
Angka itu bukan sekadar nominal. Ia adalah bukti bahwa empati masih hidup.
“Ini bukan hanya tentang membantu satu orang. Ini tentang bagaimana kita sebagai masyarakat masih punya rasa peduli,” ujar Wawan.
Bantuan datang dari berbagai kalangan. Mahasiswa, pekerja, pelaku UMKM, hingga masyarakat umum turut ambil bagian. Semua bergerak oleh satu hal yang sama: rasa kemanusiaan.
Bagi Wawan, gerakan ini adalah cerminan sederhana dari semangat “warga bantu warga”.
Komunitas Kaltim Kind sendiri digerakkan oleh anak-anak muda yang percaya bahwa perubahan bisa dimulai dari langkah kecil.
Mereka bekerja secara sukarela—mengumpulkan donasi, menyebarkan informasi, hingga memastikan bantuan tepat sasaran.
Di balik gerakan ini, dukungan juga datang dari advokat sekaligus aktivis sosial, Irma Suryani.
Ia menilai apa yang dilakukan anak-anak muda ini bukan hal kecil.
“Ini bukti nyata bahwa generasi muda bisa jadi motor perubahan. Bukan hanya bicara di media sosial, tapi benar-benar turun membantu,” ujarnya.
Menurut Irma, gerakan seperti ini perlu terus dirawat. Di tengah tekanan ekonomi dan sosial, solidaritas menjadi hal yang semakin penting.
Kisah Rasminah hari ini mungkin sederhana. Tapi dari kesederhanaan itu, lahir sesuatu yang jauh lebih besar: harapan.
Bahwa di tengah kesibukan dan hiruk pikuk kota, masih ada ruang bagi kepedulian untuk tumbuh.
Dan mungkin, dari satu cerita kecil, akan lahir lebih banyak aksi nyata berikutnya. (Ant)












