Korban Kekerasan Ibu Kandung di Bantul Kini Aman di Gunungkidul, Begini Kondisinya

Gunungkidul, Kaltimnow.id – Kabar terbaru datang dari kasus kekerasan balita berinisial ACB (3) yang sempat viral karena mulutnya dilakban dan tubuhnya diikat oleh sang ibu, TKS (25). Kini, balita tersebut telah mendapatkan perlindungan dan dirawat oleh keluarga ayahnya di wilayah Kapanewon Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, terjun langsung menjenguk ACB pada Jumat (5/6/2026) untuk memastikan kondisi kesehatan dan psikologis sang anak. Dalam kunjungan tersebut, Bupati didampingi oleh jajaran Dinas Sosial, UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Gunungkidul, serta aparat TNI dan Polri setempat.

Kondisi Terkini ACB

Bupati Endah mengungkapkan bahwa saat ini ACB dalam kondisi sehat dan tampak bahagia berada di tengah keluarga besarnya.

“Terkait latar belakang keluarga, diketahui bahwa ayah dari anak tersebut merupakan warga Patuk, Gunungkidul, sementara sang ibu berasal dari Tulang Bawang, Lampung,” kata Endah dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (6/6/2026).

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul sebenarnya telah menyiapkan safety house atau rumah aman bagi korban kekerasan. Namun, setelah melalui pertimbangan, diputuskan bahwa ACB tetap tinggal bersama nenek dan keluarga dari pihak ayah.

“Kami berkomitmen memberikan perlindungan penuh. Kami juga menyiapkan safety house bagi para korban kekerasan terhadap perempuan dan anak,” tegas Endah.

Pengakuan Ibu: Lelah Mengasuh Sendiri

Kasus yang terjadi di rumah kontrakan di Pleret, Bantul ini sempat memicu kemarahan publik. Namun, pihak kepolisian mengungkap latar belakang tindakan di luar nalar tersebut. Pelaku, TKS, diduga mengalami kelelahan ekstrem hingga kondisi psikis yang mengarah pada baby blues karena harus mengasuh anak seorang diri.

Suami pelaku, RF, diketahui bekerja di Jakarta dan hanya pulang ke Yogyakarta sebulan sekali.

“Pelaku dalam hal ini ibu kandung korban melakban anak dengan tujuan untuk refreshing jalan-jalan melepas penat yang selama ini dirasa lelahnya mengasuh anak sendirian,” ungkap Kasi Humas Polres Bantul, Iptu Rita Hidayanto, Rabu (3/6/2026).

Iptu Rita menambahkan bahwa pelaku tidak memikirkan konsekuensi fatal dari tindakannya tersebut akibat tekanan mental yang ia tanggung sendiri.

“Keluarga dan suami pelaku menganggap kejadian tersebut sebagai gangguan psikis akibat lelahnya mengurus anak sendirian dan pertama kali menjadi seorang ibu atau kata lain baby blues,” lanjut Iptu Rita.

Berakhir Damai

Meski tindakan tersebut telah viral dan menuai kecaman, pihak keluarga memilih untuk menempuh jalan kekeluargaan. RF, selaku ayah kandung, memutuskan untuk tidak melaporkan istrinya ke jalur hukum.

“Tindakan melakban tersebut tidak dipikirkan oleh pelaku risiko apa yang terjadi pada anak karena sudah terlalu capek mengurus anak sendiri. Sedangkan ayah korban atau suami pelaku kerja di Jakarta pulang ke Yogyakarta setiap sebulan sekali,” jelas Iptu Rita mengenai detail kejadian.

Kini, sang suami telah menerima maaf dan berkomitmen untuk memperbaiki hubungan rumah tangganya agar insiden serupa tidak terulang di masa depan.

“Suami saat ini memaafkan pelaku (istrinya) dan sanggup untuk memperbaiki rumah tangga sehingga kejadian tersebut tidak terulang lagi,” tutup Iptu Rita seraya mengonfirmasi bahwa kasus ini resmi berakhir damai. (Ant)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *